Aku pernah baca tulisan psikologi di suatu tempat, tentang metode pertahanan psikologis yang dilakukan manusia ketika mereka mengalami shock. Ada yang memecah kepribadiannya menjadi ganda -atau banyak- untuk bisa mengatasi situasi psikologis yang menghadang, adapula yang menghapus memorinya -seluruh atau sebagian- untuk menghindari rasa sakit dan trauma.
Apakah itu simbol kelemahan mental?
… nope. Aku rasa itu sangat manusiawi.
Lain dari itu, lebih dari sekedar menghilangkan rasa sakit dan trauma, ada yang memilih untuk ’separuh amnesia’ atau menghilangkan sebagian dari ingatan untuk menghindarkan diri dari rasa dendam berkepanjangan. Ada yang memilih untuk menghilangkan satu -atau beberapa- episode dalam hidupnya untuk bisa terus berjalan maju. Ibaratnya, memutus rantai masa lalu untuk meraih kebebasan masa depan.
ya, rasanya seperti rantai yang mengikat erat. Rasanya seperti gigi yang terus menggigit mencengkram batin, menimbulkan rasa sakit dan kemarahan. Maunya sih, membalas. Maunya membuat mereka yang menyakiti kita merasakan sakit yang lebih hebat dari apa yang kita rasakan.
But then, what..?
Ketika kita merencanakan untuk membalas dendam, mereka yang kita benci telah meraih hidup 2-3 kali lebih cepat dari kita. Kalaupun kita berhasil membalas, apa yang kita dapat kemudian? kepuasan?
Apakah kita yakin bahwa kelak tidak akan ada ‘balasan’ lagi untuk kita?
Memutus rantai dendam, memutus rantai kepedihan masa lalu.
————————————————————————-
ps. I forgive you brother, it’s your own way.. your own life. Just go on, and I will forget you.